Tampilkan postingan dengan label Agama dan Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama dan Politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2008

BARACK OBAMA MENANG

Seperti yang telah diduga oleh banyak pihak, akhirnya Obama memenangkan pemilu Presiden Amerika secara mutlak. Saingannya McCaine langsung memberikan ucapan selamat kepada Obama, suatu hal yang sangat sportif. Ucapan selamat dari rival merupakan hal yang hampir-hampir sangat susah ditemui di Indonesia. Sportivitas sangat dijunjung tinggi di negara Super Power tersebut. Di Indonesia, calon Presiden yang kalah tidak pernah mengucapkan selamat kepada pemenang, dan lebih buruk lagi, bertemu lagi pun tidak mau. Bahkan untuk menghadiri perayaan kemerdekaan secara bersama-sama pun dihindari!!!!

Ada juga pertanyaan lagi yang muncul, apakah ada pengaruh kebijakan Amerika terhadap dunia ketiga, termasuk Indonesia, dengan terpilihnya Obama. Pertanyaan tersebut wajar muncul, akan tetapi, sebenarnya hal itu tidak relevan dengan demokrasi di Amerika. Lebih relevan bagi kita adalah untuk mencontoh perilaku demokrasi yang benar-benar fair, adil, jujur dan sportif. Masalah perubahan kebijakan, itu kan urusannya mereka. Tul gak? Tapi kalau mau berdiskusi tentang itu boleh-boleh saja. Tapi jika tidak ada perubahan jangan sekali-kali mengatakan bahwa demokrasi Amerika tidak ada manfaatnya bagi Indonesia.

Bayangkan saja, Megawati mengucapkan selamat kepada SBY setelah pemilu 2004. Kemudian, tiap tanggap 17 Agustus kita melihat mantan presiden dan presiden, atau mungkin juga calon presiden yang gagal, duduk berdampingan pada waktu perayaan kemerdekaan. Wah…..indahnya…..Tapi itu hanya mimpi lho….kenyataannya, Megawati tidak mau hadir dalam pelantikan presiden SBY dan juga tidak pernah datang ke perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Lebih parah lagi, datang ke kondangan pun tidak mau ketemu, milih-milih waktu agar tidak bertemu dengan SBY….

Di Indonesia, mendirikan partai sepertinya latah. Selain itu, banyak juga yang mempuyai motivasi lain, materi misalnya. Soalnya dengan bendera partai, maka lebih mudah menggalang dana. Sumbangan dana pemerintah untuk partai adalah sama besarnya, baik untuk partai besar maupun partai kecil. Lumayan lah… Ada lagi, yaitu sumbangan simpatisan kepada partai. Kalau partai sudah bubar, kan dana itu jadi resmi milik Ketua Partai…. He he.. ya gak mesti sich… tapi banyak yang kayak gitu.

Selamat kepada Obama, salut kepada McCaine dan juga semoga Amerika lebih baik dalam hal ekonomi dan kebijakan luar negerinya. Soalnya kalau ekonomi kalian jelek, kami Bangsa Indonesia ikut kena getahnya.

Rabu, 24 September 2008

Garuda-ku

GARUDA-KU


Kadang saya menyesal mempunyai lambang burung garuda yang selalu menoleh ke kiri. Tolehannya mungkin bermaksud berwibawa, akan tetapi bagi saya seperti seorang yang melengos, emoh melihat atau mendengarkan orang di depannya. Sama persis dengan pejabat dan politisi di negara kita yang selalu melengos ketika dimintai pertanggungjawaban terhadap perbuatannya. Bedanya kalau burung garuda selalu menoleh ke kiri, kalau pejabat dan politisi kadang ke kiri kadang ke kanan, tergantung angin. Sambil melengos politisi tersebut akan berkata, ‘itu bukan wewenang saya’, atau mungkin ‘saya sedang menunggu laporan’. Aneh, padahal itu jelas-jelas wewenangnya dan semua orang sudah tahu, tapi dia masih menungggu laporan dari bawahannya, yang ketika ditanya juga akan menjawab dengan jawaban yang sama, atau mungkin sedang tidak berada di tempat.

Suatu saat, pada tahun 2002, rombongan Presiden Megawati berkunjung ke Italia, sehabis melawat ke Perancis untuk perundingan Paris-Club, yang pada intinya mau mengatakan bahwa Indonesia tidak mampu membayar hutang yang menumpuk, alias, tolong donk beri waktu lagi. Anehnya rombongan itu datang bersama anak dan keluarganya, tinggal di hotel yang sangat mewah, menyewa mobil mewah dan menyempatkan belanja di tempat-tempat yang mewah pula. Lha itu uang dari mana, mending buat nyicil utang dikit-dikit. Ketika di Roma, Presiden ditanya oleh salah seorang mahasiswa Indonesia yang sedang tugas studi di sana. Kebetulan mahasiswa tersebut mendapat bea siswa bukan dari pemerintah Indonesia, jadi berani berbicara agak sedikit lancang:

“…..nikmatnya hidup bersama, harmoni dan kedamaian tampaknya memudar karena berbagai kerusakan yang membahayakan integrasi bangsa kita. Dengan hati gelisah, kami mengikuti munculnya persoalan-persoalan baru di negeri kita, seperti berkurangnya penghormatan akan nilai-nilai moral bangsa, penyalahgunaan simbol-simbol agama untuk kepentingan politik, banyak orang yang terbunuh dalam konflik kekerasan setiap hari, hutan yang hancur dengan kecepatan 2,5 juta hektar per tahun, setiap warga negara yang mesti menanggung hutang negara sebesar 7 juta rupiah, anak SD yang drop out 16 juta, orang-orang yang melaksanakan kejahatan kemanusiaan dibiarkan memperoleh imunitas, dan orang-orang yang hilang tidak ditanyakan lagi keberadaannya. Apakah semua ini dapat diatasi dengan lebih baik dengan memegang teguh hukum yang berlaku di mana keadilan ditegakkan? (dikutik dari http://www.mirifica.net)

Bahasanya halus, tapi isinya keras…. Dan bisa anda tebak, apa jawaban Presiden tercinta kita waktu itu??? Yup…benar. Melengos kayak burung garuda, sambil berkata, ‘tidak perlu saya jawab karena di dalamnya itu sebetulnya sudah ada jawabannya!’

Ya ampyunn………….

Kamis, 18 September 2008

Agama Kendaraan Politik yang Mewah

AGAMA = KENDARAAN POLITIK YANG MEWAH


Agama dan politik bagaikan dua buah lagu yang berlomba-lomba untuk menduduki puncak top hits. Dalam satu periode, agama berada di atas politik, dan periode lain politik yang berada di atas agama. Banyak partai politik yang menggunakan isu-isu agama untuk meraih kekuasaan, dan setelah kekuasaan diraih, agama kembali dicampakkan, ada konstituen agama disayang, tidak ada konstituen agama ditendang. Ada pula agama yang menggunakan politik sebagai sarana untuk menyebarkan misi atau dakwah, dan selalu berusaha untuk mengontrol perilaku para politisi agar tidak kebablasan dalam memegang amanah yang diberikan rakyat.

Di Indonesia, negara yang telah merdeka secara semu, jauh lebih banyak politik yang menggunakan agama sebagai sarana untuk meraih kekuasaan. Dan memang harus diakui, bahwa hanya di Indonesialah, agama masih laku dijual sebagai konsumsi politik. Di banyak negara demokrasi yang lain, agama sudah tidak laku, alias mereka lebih melihat kapasitas wakil mereka dari pada melihat agama dari wakil mereka.

Sebenarnya logikanya sederhana, ketika ada suatu partai yang berlandaskan agama, atau didirikan oleh suatu kelompok agama tertentu, maka pemeluk agama lain akan sulit sekali untuk memberikan dukungan. Meskipun mereka berkoar-koar sebagai nasionalis yang akan menampung semua aspirasi rakyat, hal tersebut tetap akan sulit untuk diterima oleh pemeluk agama lain. Lebih parah lagi, jika suatu agama mempunyai banyak partai….nah apa gak lebih bingung lagi tuh pemilihnya. Dan yang lebih parah pangkat dua lagi adalah, dalam suatu agama ada kelompok aliran tertentu, dan kelompok aliran tersebut mempunyai banyak partai!!!! Apa kagak salah tuh….

Dalam suatu kasus, penyelesaian secara sederhana ada dua macam, yaitu Ya dan Tidak. Jika yang terlibat sangat banyak, maka akan muncul kemungkinan ketiga yaitu di antara Ya dan Tidak. Jika masih belum cukup, paling ada kemungkinan keempat yang merupakan terobosan pemecahan dari masalah tersebut. Jadi logika sederhananya, dalam suatu negara paling banyak ada empat partai. Tetapi di Indonesia…..

Apa tidak membingungkan rakyat? Jika ada masalah sikap negara terhadap konflik Timur Tengah, maka sikapnya adalah Mendukung atau Tidak Mendukung. Paling pol ada alternatif ketiga yaitu Abstain. Atau muncul alternatif keempat yaitu Wait and See. Tapi kalau di Indonesia ada 30 partai lebih?? Sikap apa saja yang akan dikeluarkan oleh ke-30an partai tersebut. Para pendiri partai berkedok bahwa mendirikan partai adalah hak setiap warga negara. Memang betul sekali. Tetapi apa yang akan disumbangkan oleh partai-partai tersebut??? Pendiri partai lebih berkesan oportunities, suatu hal yang sangat memalukan di negara demokrasi seperti Malaysia, tetapi masih diagung-agungkan di Indonesia.

Denny JA, salah satu pengamat politik terkenal di Indonesia, meyatakan bahwa idealnya Indonesia hanya memiliki lima atau enam partai saja. Satu partai mewakili nasionalis, satu atau dua partai mewaikili agama, satu partai adalah Partai Golkar, dan satu atau dua partai lagi menampung aspirasi yang lain. Itu sudah cukup. Energi yang masih tersisa dipergunakan untuk membangun negara bukan untuk menciptakan partai yang mengejar kekuasaan.

Almarhum Harry Roesli pernah membuat anekdot, bahwa kebobrokan politisi dan pemerintah Indonesia memang sengaja dibiarkan oleh penunggu Surga. Tujuannya adalah ketika ada orang mati dengan register orang Indonesia, pekerjaan pejabat atau politisi, maka tanpa perlu banyak pertimbangan langsung masuk neraka. Yah…etung-etung mengurangi pekerjaan. Tetapi, kalian orang Indonesia yang bukan pejabat, tunggu dulu, jangan buru-buru masuk surga. Ikuti prosedur yang benar.