Tampilkan postingan dengan label Salah Siapa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salah Siapa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Oktober 2008

Dia yang Salah

DIA YANG SALAH

Bagi yang tinggal di daerah Semarang dan sekitarnya, dan kebetulan penggemar berat sepak bola nasional, tentu tahu berita terbaru akhir-akhir ini. Bukan berita tentang skor hasil pertandingan, tetapi berita (gambarnya juga ada) tentang aksi tinju kepada seorang wasit yang dilakukan oleh seorang pembesar pengurus sepak bola setempat. Wow…… Aksinya sempat tertangkap kamera dan dimuat pada surat kabar lokal terkemuka daerah itu.
Aneh…Olah raga yang menjunjung sportifivitas tinggi, tetapi pejabat pengurusnya bertindak sangat-sangat tidak sportif. Meninju wasit!!!! Wooowww…
Anehnya lagi, bapak dari petinju yang jadi pengurus sepak bola tadi membela anaknya dan mengatakan bahwa yang salah adalah wasit. Padahal bapak dari petinju tadi adalah orang nomor satu di Semarang, alias wali kotanya…. Wooooow… (lagi)
Ya namanya anak, biarpun sudah jelas-jelas salah ya tetap dibela. Tapi…. Ya…… namanya juga anak.
Coba belajarlah dari filsafat ayam.. Kalau anak ayam diganggu, maka induk akan mematuk yang mengganggu, tetapi kalau anaknya salah, ya anaknya yang dipatuk… Fair kan…. Ayam aja tahu (dikutip dari http://www.naskahrahasia.blogspot.com)
Meskipun wasit itu tidak adil dalam memimpin, apakah pejabat sepak bola tadi berhak untuk meninjunya? Memang siapa dia?? Saya juga jadi pengin meninju anak dan bapaknya sekalian, karena saya menganggap mereka juga punya salah. Tapi nanti saya juga sama dengan dia. Gak mau ach… jadi ya…saya mendoakan saya biar anak dan bapak cepat sadar bahwa dunia ini bukan milik mereka. Like father like son… Mudah-mudahan bapaknya yang gagal jadi gubernur dan masih tersangkut banyak kasus cepat sadar, dan anaknya segera sadar untuk tidak arogan meskipun bapaknya yang punya Semarang. Amien…..

Minggu, 21 September 2008

Harga Sebuah Nyawa

HARGA SEBUAH NYAWA


Kalau Anda ditanya, berapa harga sebuah nyawa? Pastilah dengan spontan Anda menjawab, ‘sangat berharga’. Kalau dipaksa untuk menjawab, berapa rupiah, atau berapa dollar harga sebuah nyawa, kemungkinan Anda akan menganggap bahwa orang yang menanyakan sangat merendahkan harga nyawa sebuah manusia. Atau dengan kata lain, harga sebuah nyawa manusia tidak dapat diukur dengan rupiah atau dollar.

Tapi apakah realitas menunjukkan demikian? Di Indonesia, sebuah negara yang sarat dengan religi dan hukum dijunjung dengan sangat tingginya (sampai-sampai hanya beberapa orang yang dapat menggapainya), sebuah nyawa manusia harganya sangat murah. Untuk sebuah zakat bernilai tidak lebih dari Rp. 100.000, lebih dari 20 orang meninggal. Itu baru kasus yang ada akhir-akhir ini. Kalau ditilik mundur ke belakang, wah… akan lebih tragis. Berapa nyawa TKI (atau lebih halusnya nakerwati) yang melayang demi meraup rupiah di negara asing? Berapa ratus orang yang tiap hari mempertaruhkan nyawa dengan duduk di atas kereta listrik dengan menghemat beberapa ribu rupiah? Hampir tiap hari di ada berita melayangnya nyawa manusia untuk nilai rupiah yang relatif kecil, atau orang yang mempertaruhkan nyawanya demi manfaat rupiah yang demikian kecil.

Lagi-lagi, salah siapa? Mengapa hal itu bisa terjadi? Nyawa manusia mungkin dapat dipertaruhkan untuk sesuatu yang berkaitan dengan isme atau nasionalisme. Mati demi kemerdekaan, jihad, membela agama atau sejenisnya. Tapi demi uang ribuan rupiah? Yang jelas bukan salah mereka yang meninggal ketika mempertaruhkan uang ribuan rupiah tersebut. Mereka boleh dibilang berada pada kondisi ‘zero’. Kalau untung bisa dapat makan, memperpanjang usia beberapa hari. Kalau tidak, ya mati juga tidak apa-apa. Lebih baik mati cepat dari pada mati karena kelaparan. Jangan salahkan mereka. Lalu salah siapa? Ebit G Ade bilang, tanya saja pada rumput yang bergoyang.

Jumat, 12 September 2008

Lagi: Salah Siapa?

Jum’at 12 September 2008 terjadi lagi keributan kecil (mungkin juga besar) di kalangan rakyat kelas bawah. Seorang ibu-ibu protes besar kepada penjual minyak tanah karena hanya diberi jatah 5 liter setelah antri beberapa jam. Itu pun dijual dengan harga yang dianggap ngawur. Kata penjualnya, yang kebetulan sudah uzur dan agak kurang pendengaran (kata halus untuk tuli), harga minyak tanah per liter Rp. 3.500 liter tetapi pada saat transaksi meminta Rp. 4.000 per liter. Ibu itu sangat marah dan menyebut-nyebut nama makhluk hidup yang suka menyalak-nyalak berkali-kali. Juga ditambah dengan hewan pengerat lain yang diberi akhiran ‘an’. Berkali-kali kedua kata tersebut diucapkan kepada orang tua tersebut di hadapan banyak orang!!! Walahualam…..

Pengantri lain yang cukup sabar berusaha meredakan suasana dengan berkata, ”Sabar bu, sabar”. Tetapi ibu yang kalap tadi tetap tidak perduli. Kata-katanya semakin menjadi-jadi. Akhirnya ibu tadi pergi naik sepeda motor dengan memboncengkan anak perempuannya yang masih kecil.

Sepintas sepertinya ibu tadi terlalu over. Yach… uang Rp. 500 saja membatalkan puasa yang pahalanya jauh lebih besar dari pada rupiah yang dipertaruhkan. Tetapi, apakah memang demikian. Kita lihat saja fakta yang ada. Seorang caleg bupati di daerah Jawa Timur jadi stress karena tidak terpilih dan menanggung hutang sampai milyaran rupiah. Juga ada seorang istri caleg bupati di daerah Jawa Tengah yang juga stress karena suaminya gagal menjadi bupati dan kehilangan uangnya milyaran rupiah. Juga masih banyak data caleg yang jadi stress, stroke, dan berbagai macam masalah setelah mereka gagal menjadi pemimpin, yang katanya merupakan ‘amanah’ untuk mengayomi rakyat.

Bagi saya sendiri, yang sebenarnya bukan orang kaya, uang Rp. 500 memang tidak ada artinya. Tetapi belum tentu saya bisa bersikap legowo ketika saya dirugikan oleh orang lain senilai Rp. 5 juta rupiah. Contoh caleg yang stress pun ternyata tidak bisa mengendalikan dirinya ketika rugi Rp. 5 milyar rupiah. Jadi….. yang sebenarnya sama saja. Hanya level ibu tadi baru sampai Rp. 500 rupiah. Kita belum tentu lebih baik dari pada ibu tadi, dan juga bapak tua yang sengaja mengambil keuntungan dari krisis energi di Indonesia Raya.

Jika ditinjau secara lebih mendalam lagi, sebenarnya krisis minyak tanah atau secara makro krisis energi di Indonesia ini salah siapa? Listrik byar pet karena kurang batu bara, padahal teman saya yang kerja di perusahaan batu bara di Kalimantan mengatakan dengan tegas ‘siapa bilang tidak ada batu bara? Tuh kalau mau ambil berapa ton juga ada!” Sembari menjelaskan bahwa ada bukit yang telah dikeruk batu baranya sehingga menjadi lembah. Kata seorang purnawirawan jenderal yang konon sudah dikebiri ketika tertangkap oleh Fretilin, ‘kita berdiri di atas lautan minyak, tetapi kita kekurangan minyak’.

Lalu ini semua salah siapa? Apakah salah Kepala Suku republik ini? Wah, agak berat juga. Menyalahkan ibu yang marah-marah tadi atau orang tua penjual minyak tanah saja tidak berani, kok malah menyalahkan yang dipertuan agung penguasa republik ini. Datuk republik ini juga tak kuasa menyelesaikan masalah ini, meskipun sebenarnya merupakan mantan tumenggung pertambangan dan energi dan juga telah dibantu seorang patih yang sangat mahir dalam berdagang.

Atau ini jangan-jangan salah Tuhan sendiri? Mengapa Tuhan tidak menciptakan kenyamanan dan hidup bagi insan ciptaan-Nya. Wah ini, lebih ngawur lagi. Lha terus salah siapa? Kalau si ibu tadi diberi kebijaksanaan berupa minyak tanah gratis, masih ada jutaan ibu-ibu lain yang tidak kebagian minyak tanah sehingga siap menyebut semua penghuni kebun binatang dengan fasih disertai intonasi yang indah layaknya WS Rendra. Saya jadi punya pelajaran berharga, yaitu untuk tidak mengajari anak saya nama-nama binatang. Jadi nanti kalau di jalan ada orang yang menyebut-nyebut nama binatang dengan tidak hormat, anak saya tidak mengerti alias cuek-cuek saja.

Rabu, 03 September 2008

Salah Siapa?

SALAH SIAPA?

Seorang atheis bingung:
Jika Tuhan itu satu mengapa ada banyak agama?
Jika semua agama baik dan benar, mengapa pengikutnya sering bertikai bahkan saling membunuh?
Jika beribadah itu mendewasakan nurani, mengapa mereka memaksa orang lain untuk menghormati ibadah mereka?
Jika di surga itu damai, apa mungkin dapat dihuni oleh orang dari berbagai agama?
Jika agama itu membawa damai, mengapa ada banyak aliran yang tidak bisa didamaikan?

Jangan salahkan orang atheis itu, tapi salahkanlah diri kalian yang mengaku mempunyai agama!!!!